Cita-cita yang tinggi adalah bendera kesungguhan

Posted: Januari 23, 2010 in ArtiKel Ba9us, jadi inspirasi
Tag:, , , ,

Cita-cita yang tinggi adalah bendera kesungguhan

Written by Andi Rahmanto
Tuesday, 05 January 2010 16:16
Oleh: Ustadz Abu Ayyub


Pembaca belajarislam.com yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala, mari kita teruskan semangat untuk maju dan berubah untuk kejayaan umat ini, berikut sifat jiddiyah keempat yang tentunya sangat penting dan menentukan langkah kita kedepan, yaitu sifat kekasih kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang yang meneladaninya.

Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dan menyertakan kepada setiap mereka keinginan dan obsesi, maka tidak ada seorang pun yang Allah biarkan hidup tanpa sebuah keinginan. Oleh karena itu, nama yang paling sesuai untuk manusia adalah HAMAM. Sebenarnya ini juga telah disabdakan oleh Qudwah kita Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam dalam sabdanya: “Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, dan nama yang paling sesuai adalah HARIST dan HAMAM.” [As Suyuti dalam Al Jami’].

Al Mundziri memberikan penjelasan bahwa: HARIST dan HAMAM dikatakan nama yang paling sesuai untuk manusia karena HARIST adalah yang bekerja dan HAMAM adalah berkeinginan terus, karena setiap manusia tidak pernah lepas dari kedua sifat tersebut, Allahu a’lam. Akan tetapi Allah jadikan setiap mereka berbeda keinginannya, ada yang senantiasa tidak mencukupkan diri dengan keinginan yang biasa-biasa saja dan ada yang mencukupkan diri dengan yang biasa-biasa saja, berawal dari perbedaan inilah setiap kita punya cita-cita yang berbeda pula.

Pada tulisan ini akan kami sampaikan sisi yang sangat penting tentang sifat orang yang bersungguh-sungguh selain sifat-sifat yang lalu, seperti dikatakan oleh para ahli hikmah bahwasanya: Cita-cita-yang tinggi- adalah bendera kesungguhan.

Apa yang dimaksud cita-cita yang tinggi? Bercita-cita tinggi adalah ketika seseorang menganggap kecil atau sepele sesuatu yang dibawah sebuah cita-cita yang paling tinggi. Adapun dikatakan orang yang bercita-cita rendah adalah pada saat seseorang tidak berhasrat untuk sebuah prestasi yang tinggi dan ridha dengan sesuatu yang biasa-biasa saja. Syikhul Islam berkata: “Orang awam sering mengatakan bahwa ‘Harga diri setiap orang tergantung pada apa yang menjadikan dia dilihat baik,’ adapun orang-orang tertentu (ulama) mengatakan ‘Harga diri seseorang sesuai dengan keinginannya.’”

Salafushshalih senantiasa menasehati: “Jagalah cita-citamu karena itu adalah permulaan dari amalmu, maka barang siapa benar cita-citanya dan jujur maka benarlah amal-amal setelahnya.” Ibnul Jauzi berkata: “Diantara tanda kesempurnaan akal adalah cita-cita yang tinggi.” Beliau juga mengatakan, “Saya tidak melihat aib seseorang sebagai aib layaknya seorang yang mampu mencapai derajat kesempurnaan kemudian dia tidak mewujudkannya.”

Adapun obsesi tertinggi seorang mukmin secara mutlak tidaklah fokus kecuali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, tidaklah meminta selainnya, tidaklah berupaya kecuali untuk keridhaan-Nya, tidak pula menjual ketaatan kepada-Nya dengan gemerlapnya dunia ataupun dengan segala sesuatu yang sifatnya fana, karena Allahlah yang tertinggi dan tempat menggantungkan kecintaan yang tertinggi. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al Qoyyim: “Orang yang tertinggi himmah-nya adalah yang tertinggi merasakan nikmatnya mengenal Allah, mencintai-Nya, serta rindu akan perjumpaan-Nya.”

Sedangkan rendahnya obsesi seseorang merupakan sebab pertama seseorang itu akan sampai kepada kekerdilan, kenistaan, dan ketidakeksistensian. Seandainya umat ini sudah merasa cukup ridha dengan realita yang ada sekarang, serta penerus generasi mereka juga tidak memiliki obsesi untuk sebuah perubahan maka mereka akan tereliminasi dalam laju peradaban ini.

Adapun orang-orang yang senantiasa terpenuhi jiwanya dengan obsesi tinggi maka merekalah revolusioner yang akan senantiasa mengukir sejarah, sebagaimana kita telah melihat bagaimana sahabat-sahabat Rasulullah, mereka meruntuhkan imperium terbesar dan menaklukan dua Negara adikuasa ( Romawi dan Persia) dan dizaman mereka juga penaklukan-penaklukan yang lain seperti, India, Maroko, Spanyol dan lain-lain. Begitu juga saat kemulian dan tingginya semangat juang kaum muslimin seperti pada zaman Shalahuddin Al Ayyubi, mereka benar-benar menghinakan musuh-musuh Allah, mereka mengikat setiap sepuluh tawanan perang Nasrani dengan tali kemudian menukarnya dengan sandal. Pada saat mereka ditanya kenapa? Mereka menjawab: Kami akan mengabadikan kehinaan dan kenistaan mereka, yaitu kami jual pejuang-pejuang mereka dengan sandal. Maka benar-benar kehinaan mereka terabadikan.

Ternyata seiring waktu berjalan, cita-cita yang diwariskan para pahlawan sejati mengalami distorsi yang begitu memperihatinkan, bagaimana pejuang-pejuang muslim dihinakan, didudukkan, kemudian dihabisi dengan pedang-pedang musuh pada saat melawan pasukan Tar-Tar. Bahkan kita juga menyaksikan sekarang bagaimana tanah Palestina dijual dengan harga yang sangat murah, hilangnya Al-Quds serta dirampasnya Masjidil Aqsa. Juga pemandangan yang sangat memilukan hati, bagaimana kaum muslimin Irak bertekuk lutut dihadapan pasukan-pasukan Amerika, bahkan ada yang merengek kepada pasukan kufar tersebut untuk meminta belas kasihan, serta juga ada yang sampai mencium tangan-tangan busuk mereka demi mempertahankan kelangsungan hidupnya. Pemandangan serupa juga senantiasa kita saksikan didepan mata kita, bagaimana generasi kaum muslimin pada hari ini, nuansa kehidupan yang sengat kental dengan budaya mengekor, taklid menunggu-nunggu model-model kufar serta mengidolakannya.

Wahai saudaraku sesungguhnya anda sangat merindukan sesuatu yang kami juga merindukan. Kami senantiasa memimpikan sesuatu yang kami yakin anda juga mengimpikannya hal tersebut. Maka mulai detik ini pula, campakanlah jauh-jauh himmah duniamu itu!! Ingatlah…himmah-mu yang membumbung tinggi adalah kontribusi yang sangat luar biasa harganya untuk kemuliaan Islam. Bolehlah kaki-kaki kita menapak dibumi ini, akan tetapi gantungkanlah erat-erat himmah-mu dilangit yang paling tinggi. Ingatlah kekerdilan, kehinaan, kenistaan umat sekarang ini tidak lepas dari kekerdilan obsesi kita.

Umar ibn Al Khattab berkata: ”Janganlah engkau sekali-kali berobsesi rendah sesungguhnya saya belum pernah melihat orang yang paling kerdil dari orang yang berobsesi rendah.”

Ahli Balaghah mengatakan: “Uluwul Himmah merupakan nikmat yang tak ternilai.” Jika Jiwa seseorang itu besar maka akan dicapaikan dengan urusan-urusan besar pula.

Mu’awiyah pernah berkata: “Bercita-citalah kalian sesungguhnya saya mencita-citakan khilafah maka saya meraihnya padahal banyak sekali sahabat yang lebih berhak untuk meraihnya, barang siapa menginginkan kecuali dia akan meraihnya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Sesungguhnya aku memiliki jiwa yang berkeinginan sangat kuat, aku bercita-cita untuk tegaknya khilafah maka saya memperolehnya, aku menginginkan menikahi putri seorang khalifah maka aku mendapatkannya, aku bercita-cita menjadi khalifah maka aku mendapatkannya, dan aku sekarang menginginkan surga maka aku berharap untuk mendapatkannya.”

Dalil-dalil yang memerintahkan kita bercita-cita tinggi.

Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’” [QS. Al Furqan: 74]

Jika engkau meminta surga, mintalah surga firdus karena firdaus adalah surga yang paling tinggi.” [Mutafaqqun ‘Alaih].

Sesungguhnya Allah menyukai permasalahn yang tinggi-tinggi dan mulia dan Allah membenci yang biasa-biasa.” [HR. Thabrani no 2894]

Rujukan:

Uluwul Himmah karya Syaikh Muhammad Isma’il Al Muqaddam Ar Rajul Ash shifr Durus Lisyaikh Ibrohim Ad Duwaisy.

http://belajarislam.com/materi-belajar/tarbiyah/756–cita-cita-yang-tinggi-adalah-bendera-kesungguhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s