Rabb, klo boleh aku pinta, tapi bukan bermaksud aku memaksa, aku ingin sekali dia seorang alim disana menjadi teman hidup dan matiku.

*ahh……..begitu sering aku minta 1/2 maksa bahkan mungkin memaksa. tapi apakah mungkin Dia memberiku dengan terpaksa?

Rabb, padahal tekadku sudah bulat niatku sudah kuat -tapi tetap saja harus terus kuluruskan niat ini, karena lurus mencong lagi begitu terus- Namun mengapa hingga kini masih saja aku sepi sendiri?

*Huuuh…….manusia, manusia. apa kau pikir pertolonganNya bisa jatuh dari langit begitu saja. Usaha donk.

**jadi inget cerita yg kubaca dr buku berjudul XXX kemarin, yang mengisahkan seorang bapak tua yang kebanjiran. Tidak hanya rumahnya yang tenggelam, tapi sebagian besar wilayah daratannya sudah seperti lautan luas. Bodohnya, tuh Bapak ga mau ditolong siapapun. Tetangga, saudara, bahkan petugas relawan. si Bapak hanya ingin Allah yang datang menolongnya. dan ia selalu menunggu pertolongan Allah itu datang. Padahal sampai helikopter datang untuk menolongnya, karena kondisi banjir yang sudah sedemikia parah sehingga tak satupun orang bisa menembus wilayah tempat dimana Bapak itu berlindung (diujung genteng rumah yg mau roboh), si Bapak tua itu tetap saja tidak mau ditolong. Hingga akhirnya ia tewas kedinginan. Sesampainya di akhirat dia pun menggugat Tuhan. “Wahai Tuhanku, kenapa kau membiarkan aku mati kedinginan? padahal aku sudah begitu berharap padaMu, dan hanya menanti pertolongan dari Engkau. tapi apa, tidak ada sama sekali pertolongan dari Kau, padahal aku sudah sebegitu pasrahnya menggantungkan harapan hanya padaMu”, begitulah gugatannya kepada Tuhan. Lalu Tuhan pun berkata,” Wahai hambaKu, tak sadarkah kau sudah banyak sekali pertolongan yang aku kirimkan kepadamu, tapi sayang kau menolaknya. PertolonganKu itu tidak harus sesuai seperti apa maumu, tapi pertolonganKu bisa kukirimkan melalu tangan2 orang lain. dari mulai tetanggamu sampai helikopter yang akan mengangkutmu, kau tolak semua. padahal kalau kau tahu, itu semua adalah bantuan yang Aku kirimkan untukmu, tapi sayang kau tidak bisa memaknainya.” Bapak tua itu hanya meratap menangisi dan menyesali atas semua yang terjadi. Andai……. yah,, sesal selalu datang belakangan.

*Intinya, jangan2 sebenernya Allah sudah membuka jalan&memberi pilihan buatku dengan datangnya tawaran2 itu, namun hatiku masih saja tertutup, hingga kuanggap Dia membiarkan aku begitu saja. Astaghfirullahaladziim

Rabb….. Kau tau, sungguh tau apa yang telah datang dan pergi padaku sehari2. aku bagai dipersimpangan jalan, bingung arah mana yg harus kupilih. Mantapkan hatiku Rabb….  Sungguh aku tak tau harus bagaimana,

*Sejatinya hingga detik ini aku berharap dia bisa menjadi temanku. apa aku salah Rabb mengharapkannya? -tapi sekali lagi bukan maksudku memaksaMu untuk mengabulkan apa yang aku mau…. sungguh aku lebih ingin pilihanMu yang terbaik untukku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s